Catat Kasus Kusta, Dinkes Perkuat Skrining dan Pantauan Pasien

Kota Pekalongan – Dinas Kesehatan (Dinkes) Kota Pekalongan mencatat adanya temuan kasus kusta berdasarkan hasil skrining yang dilakukan pada tahun 2025. Dari kegiatan tersebut, teridentifikasi sekitar 33 kasus kusta yang saat ini seluruhnya masih dalam tahap pengobatan dan pemantauan oleh petugas kesehatan.
 
Kepala Dinas Kesehatan Kota Pekalongan, Puji Winarti melalui Kepala Bidang Kesehatan Masyarakat Pencegahan dan Pengendalian Penyakit setempat, dr. Dita Rasnasuri, saat ditemui di ruang kerjanya belum lama ini, menyampaikan bahwa hasil skrining menunjukkan Kota Pekalongan berada pada urutan kedua jumlah temuan kasus kusta di Jawa Tengah. Oleh karena itu, pengawasan terhadap pasien kusta terus dilakukan secara berkelanjutan guna mencegah terjadinya penularan di masyarakat.
 
“Seluruh pasien yang teridentifikasi masih dalam pengobatan dan tetap kami pantau, agar tidak terjadi penularan dan komplikasi lanjutan,” ujarnya.
 
Ia menjelaskan, kondisi cuaca dan lingkungan turut memengaruhi potensi penularan penyakit kusta. Lingkungan yang becek dan kurang bersih, terutama saat musim hujan, dinilai dapat mempercepat penyebaran penyakit apabila tidak diantisipasi dengan baik.
 
“Pada kondisi cuaca seperti ini, penularan kusta bisa terjadi lebih cepat, khususnya di wilayah yang becek dan kotor,” jelasnya.
 
Selain itu, penemuan kasus kusta membutuhkan kejelian petugas kesehatan. Menurutnya, gejala kusta tidak selalu mudah dikenali sehingga diperlukan ketelitian dalam pemeriksaan untuk memastikan seseorang terdiagnosis kusta atau tidak.
 
Pada tahun lalu, sebagian besar temuan kasus berasal dari wilayah barat Kota Pekalongan, salah satunya di daerah Kramatsari. Saat pelaksanaan skrining, petugas sempat mengalami kendala karena sejumlah warga terdampak banjir sehingga tidak berada di rumah. Setelah kondisi membaik dan warga kembali, pemeriksaan dapat dilanjutkan hingga kasus-kasus tersebut teridentifikasi.
 
“Kemarin sempat terkendala banjir, sehingga saat skrining dilakukan, beberapa warga tidak berada di rumah. Setelah mereka kembali, barulah bisa kami temukan,” katanya.
 
Lebih lanjut, ia menegaskan bahwa pemantauan terhadap pasien kusta sangat penting dilakukan secara rutin. Penyakit kusta yang tidak dipantau dan diobati dengan baik berisiko menimbulkan kecacatan yang dapat berdampak pada kualitas hidup penderita.
 
Melalui skrining, pengobatan, dan pemantauan yang intensif, ia berharap upaya pengendalian kusta dapat berjalan optimal serta mencegah terjadinya penularan di masyarakat.
 
(Tim Liputan Dinkominfo/dea)