BPS Kota Pekalongan Terapkan WFH Setiap Jumat, Pelayanan Publik Tetap Berjalan Optimal

BPS Kota Pekalongan Terapkan WFH Setiap Jumat, Pelayanan Publik Tetap Berjalan Optimal
Kota Pekalongan – Badan Pusat Statistik (BPS) Kota Pekalongan mulai menerapkan kebijakan work from home (WFH) satu kali dalam sepekan, tepatnya setiap hari Jumat. Kebijakan ini merupakan tindak lanjut dari arahan BPS RI yang bertujuan meningkatkan efisiensi kerja sekaligus mendukung gerakan ramah lingkungan, tanpa mengurangi kualitas pelayanan publik kepada masyarakat.
Kepala BPS Kota Pekalongan, Hayu Wuranti, menjelaskan bahwa penerapan WFH dilakukan secara terjadwal dan bergiliran, sehingga aktivitas pelayanan kepada masyarakat tetap berjalan seperti biasa, khususnya bagi para pengguna data statistik.
“Memang ada instruksi dari BPS RI untuk melaksanakan work from home seminggu sekali, yaitu setiap hari Jumat. Namun demikian, pelayanan kami tidak berhenti. Tetap ada petugas yang berjaga secara bergiliran untuk melayani masyarakat di Pelayanan Statistik Terpadu (PST),” ujar Hayu, Kamis (16/4/2026).
Ia menegaskan bahwa, keberadaan layanan PST tetap menjadi prioritas, mengingat kebutuhan data statistik yang akurat dan cepat sangat dibutuhkan oleh berbagai pihak, mulai dari pemerintah, akademisi, hingga masyarakat umum.
Selain menjaga kualitas pelayanan, kebijakan WFH ini juga menjadi bagian dari upaya efisiensi dan penghematan sumber daya. Menurutnya, dengan berkurangnya aktivitas di kantor pada hari tertentu, penggunaan listrik, air, dan jaringan internet dapat ditekan secara signifikan.
“WFH ini kami harapkan bisa mengurangi penggunaan listrik, internet, maupun air. Di samping itu, kami juga sudah cukup lama menerapkan efisiensi anggaran, misalnya untuk kegiatan pelatihan yang kini lebih banyak dilakukan secara online dibandingkan offline,” jelasnya.
Lebih lanjut, ia mengungkapkan bahwa, jika pun kegiatan tatap muka harus dilakukan, maka akan dibatasi dengan skema kombinasi antara daring dan luring.
"Biasanya dua hari dilakukan secara online, dan satu hari offline. Ini juga bagian dari efisiensi sekaligus adaptasi terhadap perkembangan teknologi,” imbuhnya.
Tak hanya itu, BPS Kota Pekalongan juga mendorong penerapan gaya hidup ramah lingkungan bagi para pegawainya. Pada hari kerja selain Jumat, pegawai yang memiliki jarak tempat tinggal dekat dengan kantor dianjurkan menggunakan transportasi alternatif seperti sepeda atau jalan kaki.
“Untuk hari Jumat memang jumlah pegawai yang masuk hanya sebagian, sehingga secara otomatis sudah mengurangi konsumsi energi. Namun untuk hari lainnya, kami juga mengimbau bagi yang rumahnya dekat agar bisa menggunakan sepeda sebagai sarana transportasi maupun jalan kaki," tuturnya.
Kebijakan ini dinilai sejalan dengan semangat pembangunan berkelanjutan yang tidak hanya berfokus pada kinerja organisasi, tetapi juga memperhatikan aspek lingkungan. Dengan langkah ini, Hayu berharap dapat menjadi contoh bagi instansi lain dalam mengimplementasikan pola kerja yang fleksibel, efisien, dan tetap produktif.
Di sisi lain, masyarakat diimbau tidak perlu khawatir terkait akses layanan data statistik. BPS memastikan bahwa seluruh layanan tetap dapat diakses baik secara langsung di kantor maupun melalui kanal digital yang telah disediakan.
"Dengan kombinasi sistem kerja yang adaptif dan pelayanan yang tetap optimal, kami dari BPS Kota Pekalongan berkomitmen dalam memberikan pelayanan terbaik sekaligus berkontribusi pada upaya pelestarian lingkungan,"tukasnya.
(Tim Liputan Kominfo/Dian)
Kota Pekalongan – Badan Pusat Statistik (BPS) Kota Pekalongan mulai menerapkan kebijakan work from home (WFH) satu kali dalam sepekan, tepatnya setiap hari Jumat. Kebijakan ini merupakan tindak lanjut dari arahan BPS RI yang bertujuan meningkatkan efisiensi kerja sekaligus mendukung gerakan ramah lingkungan, tanpa mengurangi kualitas pelayanan publik kepada masyarakat.
Kepala BPS Kota Pekalongan, Hayu Wuranti, menjelaskan bahwa penerapan WFH dilakukan secara terjadwal dan bergiliran, sehingga aktivitas pelayanan kepada masyarakat tetap berjalan seperti biasa, khususnya bagi para pengguna data statistik.
“Memang ada instruksi dari BPS RI untuk melaksanakan work from home seminggu sekali, yaitu setiap hari Jumat. Namun demikian, pelayanan kami tidak berhenti. Tetap ada petugas yang berjaga secara bergiliran untuk melayani masyarakat di Pelayanan Statistik Terpadu (PST),” ujar Hayu, Kamis (16/4/2026).
Ia menegaskan bahwa, keberadaan layanan PST tetap menjadi prioritas, mengingat kebutuhan data statistik yang akurat dan cepat sangat dibutuhkan oleh berbagai pihak, mulai dari pemerintah, akademisi, hingga masyarakat umum.
Selain menjaga kualitas pelayanan, kebijakan WFH ini juga menjadi bagian dari upaya efisiensi dan penghematan sumber daya. Menurutnya, dengan berkurangnya aktivitas di kantor pada hari tertentu, penggunaan listrik, air, dan jaringan internet dapat ditekan secara signifikan.
“WFH ini kami harapkan bisa mengurangi penggunaan listrik, internet, maupun air. Di samping itu, kami juga sudah cukup lama menerapkan efisiensi anggaran, misalnya untuk kegiatan pelatihan yang kini lebih banyak dilakukan secara online dibandingkan offline,” jelasnya.
Lebih lanjut, ia mengungkapkan bahwa, jika pun kegiatan tatap muka harus dilakukan, maka akan dibatasi dengan skema kombinasi antara daring dan luring.
"Biasanya dua hari dilakukan secara online, dan satu hari offline. Ini juga bagian dari efisiensi sekaligus adaptasi terhadap perkembangan teknologi,” imbuhnya.
Tak hanya itu, BPS Kota Pekalongan juga mendorong penerapan gaya hidup ramah lingkungan bagi para pegawainya. Pada hari kerja selain Jumat, pegawai yang memiliki jarak tempat tinggal dekat dengan kantor dianjurkan menggunakan transportasi alternatif seperti sepeda atau jalan kaki.
“Untuk hari Jumat memang jumlah pegawai yang masuk hanya sebagian, sehingga secara otomatis sudah mengurangi konsumsi energi. Namun untuk hari lainnya, kami juga mengimbau bagi yang rumahnya dekat agar bisa menggunakan sepeda sebagai sarana transportasi maupun jalan kaki," tuturnya.
Kebijakan ini dinilai sejalan dengan semangat pembangunan berkelanjutan yang tidak hanya berfokus pada kinerja organisasi, tetapi juga memperhatikan aspek lingkungan. Dengan langkah ini, Hayu berharap dapat menjadi contoh bagi instansi lain dalam mengimplementasikan pola kerja yang fleksibel, efisien, dan tetap produktif.
Di sisi lain, masyarakat diimbau tidak perlu khawatir terkait akses layanan data statistik. BPS memastikan bahwa seluruh layanan tetap dapat diakses baik secara langsung di kantor maupun melalui kanal digital yang telah disediakan.
"Dengan kombinasi sistem kerja yang adaptif dan pelayanan yang tetap optimal, kami dari BPS Kota Pekalongan berkomitmen dalam memberikan pelayanan terbaik sekaligus berkontribusi pada upaya pelestarian lingkungan,"tukasnya.
(Tim Liputan Kominfo/Dian)
PRINT +
DOWNLOAD PDF