BPP Kota Pekalongan Raih Juara III Nasional, Inovasi Pertanian Modern Makin Kreatif

BPP Kota Pekalongan Raih Juara III Nasional, Inovasi Pertanian Modern Makin Kreatif
Kota Pekalongan – Inovasi pertanian Kota Pekalongan kembali mendapat pengakuan di tingkat nasional. Balai Penyuluhan Pertanian (BPP) Kota Pekalongan berhasil meraih Peringkat III Lomba Video Kreatif Penyuluh Pertanian Tahun 2026 subkategori Pertanian Modern, Petani Makmur. Penghargaan tersebut diberikan oleh Menteri Pertanian RI pada 17 Agustus 2026.
Capaian ini menjadi bukti bahwa inovasi pertanian tidak hanya berkembang melalui penerapan teknologi di lahan, tetapi juga melalui kreativitas dalam menyampaikan edukasi kepada masyarakat.
Ketua Tim Kerja CWS (Co-Working Space) Kota Pekalongan, Amalia Khusna, S.STP, menyebut prestasi tersebut menjadi motivasi bagi para penyuluh untuk terus belajar dan beradaptasi dengan perkembangan media informasi.
“Penghargaan tersebut bukan sekadar persoalan peringkat. Capaian nasional itu menjadi motivasi bagi penyuluh untuk terus belajar, berkreasi, serta mengikuti perubahan cara masyarakat memperoleh informasi,” kata Amalia, saat dikonfirmas pada Rabu siang (2/9/2026).
Penyuluh Pertanian Ahli Pertama yang membina wilayah Kecamatan Pekalongan Selatan, Yetty Marlince, S.Tr.P, mengatakan penghargaan tersebut menjadi pengalaman berkesan karena merupakan kali pertama dirinya menjalankan peran sebagai penyuluh sekaligus pembuat konten. Video yang dibuat mengangkat cerita nyata aktivitas penyuluh bersama petani dengan kemasan yang informatif, menarik, dan mudah dipahami.
"Pertanian modern yang ditampilkan juga tidak semata-mata tentang penggunaan mesin canggih, melainkan bagaimana teknologi mampu membuat pekerjaan petani lebih efektif dan efisien,"terang Marlin, sapaan akrabnya.
Menurutnya, pemanfaatan alsintan dilakukan mulai pengolahan lahan menggunakan TR4 dan crawler, penanaman dengan transplanter, penyemprotan menggunakan drone, hingga panen memakai combine harvester. Penerapan teknologi tersebut diharapkan dapat menekan biaya dan tenaga sekaligus meningkatkan produktivitas serta kesejahteraan petani.
“Pertanian modern bukan sekadar soal penggunaan mesin yang canggih, tetapi bagaimana teknologi tersebut benar-benar memberikan manfaat ekonomi bagi petani,” tegas Marlin.
Ia menambahkan, keberhasilan meraih penghargaan nasional bukan menjadi akhir, tetapi momentum untuk terus memperluas edukasi pertanian melalui media sosial, terutama guna menjangkau generasi muda.
“Lomba ini bukan menjadi titik akhir, tetapi justru menjadi titik awal untuk memperluas edukasi dan penerapan pertanian modern di Kota Pekalongan,” pungkasnya.
(Tim Liputan Kominfo/Dian)
Kota Pekalongan – Inovasi pertanian Kota Pekalongan kembali mendapat pengakuan di tingkat nasional. Balai Penyuluhan Pertanian (BPP) Kota Pekalongan berhasil meraih Peringkat III Lomba Video Kreatif Penyuluh Pertanian Tahun 2026 subkategori Pertanian Modern, Petani Makmur. Penghargaan tersebut diberikan oleh Menteri Pertanian RI pada 17 Agustus 2026.
Capaian ini menjadi bukti bahwa inovasi pertanian tidak hanya berkembang melalui penerapan teknologi di lahan, tetapi juga melalui kreativitas dalam menyampaikan edukasi kepada masyarakat.
Ketua Tim Kerja CWS (Co-Working Space) Kota Pekalongan, Amalia Khusna, S.STP, menyebut prestasi tersebut menjadi motivasi bagi para penyuluh untuk terus belajar dan beradaptasi dengan perkembangan media informasi.
“Penghargaan tersebut bukan sekadar persoalan peringkat. Capaian nasional itu menjadi motivasi bagi penyuluh untuk terus belajar, berkreasi, serta mengikuti perubahan cara masyarakat memperoleh informasi,” kata Amalia, saat dikonfirmas pada Rabu siang (2/9/2026).
Penyuluh Pertanian Ahli Pertama yang membina wilayah Kecamatan Pekalongan Selatan, Yetty Marlince, S.Tr.P, mengatakan penghargaan tersebut menjadi pengalaman berkesan karena merupakan kali pertama dirinya menjalankan peran sebagai penyuluh sekaligus pembuat konten. Video yang dibuat mengangkat cerita nyata aktivitas penyuluh bersama petani dengan kemasan yang informatif, menarik, dan mudah dipahami.
"Pertanian modern yang ditampilkan juga tidak semata-mata tentang penggunaan mesin canggih, melainkan bagaimana teknologi mampu membuat pekerjaan petani lebih efektif dan efisien,"terang Marlin, sapaan akrabnya.
Menurutnya, pemanfaatan alsintan dilakukan mulai pengolahan lahan menggunakan TR4 dan crawler, penanaman dengan transplanter, penyemprotan menggunakan drone, hingga panen memakai combine harvester. Penerapan teknologi tersebut diharapkan dapat menekan biaya dan tenaga sekaligus meningkatkan produktivitas serta kesejahteraan petani.
“Pertanian modern bukan sekadar soal penggunaan mesin yang canggih, tetapi bagaimana teknologi tersebut benar-benar memberikan manfaat ekonomi bagi petani,” tegas Marlin.
Ia menambahkan, keberhasilan meraih penghargaan nasional bukan menjadi akhir, tetapi momentum untuk terus memperluas edukasi pertanian melalui media sosial, terutama guna menjangkau generasi muda.
“Lomba ini bukan menjadi titik akhir, tetapi justru menjadi titik awal untuk memperluas edukasi dan penerapan pertanian modern di Kota Pekalongan,” pungkasnya.
(Tim Liputan Kominfo/Dian)
PRINT +
DOWNLOAD PDF