BMKG Ajak Masyarakat Siapkan Langkah Antisipatif Hadapi Dampak El Nino

BMKG Ajak Masyarakat Siapkan Langkah Antisipatif Hadapi Dampak El Nino
Kota Pekalongan – Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) mengajak masyarakat untuk meningkatkan kewaspadaan dan menyiapkan langkah antisipatif menghadapi dampak fenomena El Nino yang diperkirakan memengaruhi kondisi cuaca di Jawa Tengah pada semester kedua tahun 2026.
Ketua Tim Manajerial Operasional BMKG Stasiun Meteorologi Kelas II Ahmad Yani Semarang, Giyarto, menjelaskan bahwa El Nino dengan intensitas ringan hingga menengah berpotensi menyebabkan berkurangnya curah hujan, meningkatnya risiko kekeringan, serta potensi kebakaran lahan dan hutan akibat kondisi udara yang lebih kering.
"Masyarakat perlu lebih bijak dalam memanfaatkan sumber daya air serta menghindari aktivitas pembakaran yang dapat memicu kebakaran,"ucapnya, Senin (6/7/2026).
Ia mengimbau masyarakat untuk melakukan pengawasan terhadap aktivitas pembakaran dan mengelola penggunaan air dengan baik, mengingat debit air berpotensi menurun selama musim kemarau. Giyarto menambahkan, fenomena El Nino diperkirakan berlangsung sejak Juni hingga akhir tahun 2026.
"Pada puncak musim kemarau, yakni Juli hingga Agustus, suhu udara diprediksi lebih dingin pada malam hari dan kondisi udara menjadi lebih kering. BMKG akan terus melakukan pemantauan untuk mengantisipasi kemungkinan dampak yang lebih luas,"terangnya.
Meski demikian, ia menyebut kondisi tersebut juga dapat memberikan dampak positif bagi sektor perikanan karena perubahan kondisi laut berpotensi meningkatkan hasil tangkapan ikan di sejumlah wilayah pesisir.
"Kami berharap masyarakat tetap tenang, terus mengikuti informasi cuaca resmi, dan bersama-sama meningkatkan kesiapsiagaan menghadapi perubahan iklim yang terjadi,"pungkasnya.
(Tim Liputan Kominfo/Dian)
Kota Pekalongan – Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) mengajak masyarakat untuk meningkatkan kewaspadaan dan menyiapkan langkah antisipatif menghadapi dampak fenomena El Nino yang diperkirakan memengaruhi kondisi cuaca di Jawa Tengah pada semester kedua tahun 2026.
Ketua Tim Manajerial Operasional BMKG Stasiun Meteorologi Kelas II Ahmad Yani Semarang, Giyarto, menjelaskan bahwa El Nino dengan intensitas ringan hingga menengah berpotensi menyebabkan berkurangnya curah hujan, meningkatnya risiko kekeringan, serta potensi kebakaran lahan dan hutan akibat kondisi udara yang lebih kering.
"Masyarakat perlu lebih bijak dalam memanfaatkan sumber daya air serta menghindari aktivitas pembakaran yang dapat memicu kebakaran,"ucapnya, Senin (6/7/2026).
Ia mengimbau masyarakat untuk melakukan pengawasan terhadap aktivitas pembakaran dan mengelola penggunaan air dengan baik, mengingat debit air berpotensi menurun selama musim kemarau. Giyarto menambahkan, fenomena El Nino diperkirakan berlangsung sejak Juni hingga akhir tahun 2026.
"Pada puncak musim kemarau, yakni Juli hingga Agustus, suhu udara diprediksi lebih dingin pada malam hari dan kondisi udara menjadi lebih kering. BMKG akan terus melakukan pemantauan untuk mengantisipasi kemungkinan dampak yang lebih luas,"terangnya.
Meski demikian, ia menyebut kondisi tersebut juga dapat memberikan dampak positif bagi sektor perikanan karena perubahan kondisi laut berpotensi meningkatkan hasil tangkapan ikan di sejumlah wilayah pesisir.
"Kami berharap masyarakat tetap tenang, terus mengikuti informasi cuaca resmi, dan bersama-sama meningkatkan kesiapsiagaan menghadapi perubahan iklim yang terjadi,"pungkasnya.
(Tim Liputan Kominfo/Dian)
PRINT +
DOWNLOAD PDF