Bangkitkan Budaya, Sintren dan Pagelaran Wayang Kulit Ramaikan Tradisi Sadranan

Sebagai upaya menguri-uri budaya, Kesenian tradisional Sintren turut digelar meramaikan kegiatan Tradisi Sadranan Sedekah Nelayan Kota Pekalongan yang diinisiasi oleh Himpunan Nelayan Seluruh Indonesia (HNSI) Kota Pekalongan bekerjasama dengan Pemerintah Kota Pekalongan. Malam harinya dilaksanakan pagelaran Wayang Kulit semalam suntuk, bertempat di Komplek Pelabuhan Perikanan Nusantara Pekalongan (PPNP) setempat, Kamis malam (24/10/2019).

Ketua HNSI Kota Pekalongan sekaligus ketua panitia Sadranan, Imamenu, mengungkapkan dalam kegiatan Sadranan ini digelar berbagai kegiatan menarik, salah satu diantaranya disisipkan kegiatan berupa tontonan rakyat yang sudah jarang ditemui seperti Sintren dan Wayang Kulit.

"Kegiatan Tradisi Sadranan ini memang rutin kami gelar setiap tahunnya dengan beberapa acara seperti Kesenian Sintren dan Pagelaran Wayang Kulit semalam suntuk yang sudah jarang kita temui. Kami ingin membangkitkan kembali seni dan budaya asli Jawa khususnya di Pekalongan agar tidak punah. Selain itu, juga ada kegiatan larung sesaji ke tengah laut, bazar pasar murah, lomba mewarnai, cek kesehatan dan sebagainya," terang Imam.

Ketua Paguyuban Sintren Landungsari Kota Pekalongan, Mizaroh, menuturkan Kesenian Sintren Pekalongan dikenal sebagai tarian dengan aroma mistis/magis yang bersumber dari cerita cinta kasih Sulasih dengan Sulandono, seorang putra Bupati di Mataram Joko Bahu atau dikenal dengan nama Bahurekso dan Rr Rantamsari.

"Percintaan mereka tidak direstui oleh orang tua R Sulandono, sehingga R Sulandono diperintahkan ibundanya untuk bertapa dan diberikan selembar kain (“sapu tangan”) sebagai sarana kelak untuk bertemu dengan Sulasih setelah masa bertapanya selesai. Sedangkan Sulasih diperintahkan untuk menjadi penari pada setiap acara bersih desa diadakan sebagai syarat dapat bertemu R Sulandono. Tepat pada saat bulan purnama diadakan upacara bersih desa, pada saat itulah Sulasih menari dan R Sulandono turun dari pertapaannya secara sembunyi-sembunyi dengan membawa sapu tangan pemberian ibunya. Sulasih yang menari kemudian dimasuki kekuatan spirit Rr. Rantamsari sehingga mengalami 'trance' dan saat itu pula R Sulandono melemparkan sapu tangannya sehingga Sulasih pingsan. Saat Sulasih 'trance/kemasukan roh halus/kesurupan' ini yang disebut 'Sintren', dan pada saat R Sulandono melempar sapu tangannya disebut sebagai 'balangan',” papar Mizaroh.

Disampaikan Mizaroh, keberadaan kesenian sintren hampir punah karena tidak ada warga yang menanggap maupun jarangnya generasi muda yang mau mempelajari kesenian tradisional ini. Jika tidak ada upaya melestarikan, menurut Mizaroh kesenian sintren sebagai salah satu kekayaan budaya dan kearifan lokal ini tidak menutup kemungkinan akan punah dari perbendaharaan budaya bangsa.

"Kami memainkan pertunjukan sekitar tiga jam. Untuk menjadi penari sintren ini syaratnya masih gadis atau masih perawan karena penari Sintren harus dalam keadaan suci. Selain itu para penari Sintren di wajibkan berpuasa terlebih dahulu, agar tubuh si penari tetap dalam keadaan suci dan menjaga tingkah lakunya agar tidak berbuat dosa dan berzina," kata Mizaroh.

Sementara itu Ki Dalang Wiwit Sri Kuncoro dari Karanganyar yang tampil memainkan pagelaran wayang kulit menceritakan pihaknya membawakan lakon Kresna Duta.

Kisah tersebut pada intinya mengisahkan Sri Krisna didaulat menjadi duta terakhir untuk membahas perihal janji Duryudana yg akan mengembalikan kerajaan Indraprasta dan separuh kerajaan Astina kepada Pandawa. Setelah duta pertama (Dewi Kunthi) dan duta kedua (Prabu Drupada) gagal menempuh jalur mediasi dengan Duryudana,maka Pandawa meminta Sri Krishna menjadi duta pamungkas,dengan harapan Duryudana berkenan mengembalikan sesuai perjanjian ketika Lakon Pendawa kalah bermain dadu. Ternyata duta ketiga ini juga gagal karena Duryudana tetep kukuh pada pendirian nya dan lebih memilih jalan berperang dg pandawa. Maka, dengan adanya kegagalan yg ketiga ini sdh dpt dipastikan bahwa perang besar yg disebut Baratayudha sdh pasti terjadi dan hanya menunggu hitungan hari.

"Alhamdulillah penonton banyak,dan sangat antusias karena pertunjukan ini sudahmenjadi event tradisi tahunan sehingga masyarakat pecinta wayang sudah menunggu event ini," tandas Ki Dalang Wiwit.