AirNav dan Pemkot Ajak Masyarakat Stop Terbangkan Balon Udara Liar

AirNav dan Pemkot Ajak Masyarakat Stop Terbangkan Balon Udara Liar
Kota Pekalongan – AirNav Indonesia dan Pemerintah Kota (Pemkot) Pekalongan terus berkomitmen dalam menjaga keselamatan penerbangan nasional dengan mengajak masyarakat untuk menghentikan praktik penerbangan balon udara liar. Sebagai solusi yang lebih aman dan tetap menghargai kearifan lokal, AirNav mendorong penggunaan balon udara yang ditambatkan, khususnya dalam momentum tradisi Syawalan di berbagai daerah, termasuk Kota Pekalongan. Komitmen tersebut disampaikan Direktur Keselamatan, Keamanan, dan Standardisasi AirNav Indonesia, Nurcahyo Utomo dalam Pembukaan kegiatan Pekalongan Balloon Festival Tahun 2026 yang digelar di Stadion Hoegeng Kota Pekalongan, Sabtu (28/3/2026).
Kegiatan ini tidak hanya menjadi ajang pelestarian tradisi, tetapi juga sarana kampanye keselamatan penerbangan kepada masyarakat.
Nurcahyo menegaskan bahwa, balon udara liar masih menjadi ancaman serius bagi keselamatan navigasi penerbangan. Berdasarkan data AirNav Indonesia selama periode Idulfitri 1447 H/2026 M hingga 28 Maret 2026, tercatat sebanyak 22 laporan balon udara tidak terkendali di sejumlah wilayah Indonesia.
“Balon udara terpantau pada berbagai ketinggian, mulai dari sekitar 1.500 kaki, 6.000 kaki, 10.000 kaki hingga mencapai FL350, termasuk di wilayah Yogyakarta, Kebumen, Pasuruan, hingga jalur udara menuju Bali. Ini menunjukkan bahwa balon udara liar bukan sekadar persoalan ketertiban, tetapi berpotensi nyata mengganggu keselamatan penerbangan,” jelasnya.
Ia pun mengimbau masyarakat untuk tidak lagi menerbangkan balon udara secara bebas ke udara.
“Tradisi budaya yang baik harus dijaga dan dilestarikan, tetapi bukan yang membahayakan. Kami sangat berharap masyarakat bisa menghentikan aksi balon udara liar dengan alasan apa pun,” tegasnya.
Sebagai bentuk solusi, AirNav Indonesia mendorong penggunaan balon udara yang ditambatkan. Menurutnya, pendekatan ini menjadi jalan tengah antara menjaga keselamatan ruang udara dan tetap melestarikan tradisi masyarakat.
“AirNav Indonesia menghormati tradisi yang sudah menjadi bagian dari kearifan lokal. Oleh karena itu, kami mengajak masyarakat untuk menerbangkan balon dengan cara ditambatkan, bukan dilepas bebas. Dengan demikian, tradisi tetap hidup, namun keselamatan penerbangan juga tetap terjaga,” imbuh Nurcahyo.
Ia menambahkan, keberhasilan menjaga keselamatan ruang udara tidak bisa dilakukan sendiri oleh operator navigasi penerbangan. Diperlukan sinergi antara pemerintah daerah, aparat keamanan, regulator, maskapai, hingga masyarakat luas.
“Keselamatan penerbangan adalah tanggung jawab bersama. Kami percaya, melalui edukasi dan kolaborasi, kesadaran masyarakat akan tumbuh sehingga kepatuhan tidak hanya karena larangan, tetapi karena pemahaman,” lanjutnya.
Sementara itu, Wali Kota Pekalongan, H.A. Afzan Arslan Djunaid atau yang akrab disapa Aaf, menyampaikan apresiasi atas dukungan AirNav Indonesia dalam menjaga keselamatan penerbangan sekaligus melestarikan tradisi lokal.
Wali Kota Aaf menilai, Festival Balon Udara Tambat ini menjadi solusi nyata dalam menjawab persoalan balon liar yang selama ini kerap meresahkan.
“Kami sangat mengapresiasi peran AirNav Indonesia yang terus mengedukasi masyarakat. Festival ini menjadi wadah agar tradisi tetap berjalan, tetapi dengan cara yang aman dan tertib,” ujarnya.
Ia menegaskan bahwa, Pemerintah Kota Pekalongan akan terus mendukung upaya-upaya kolaboratif dalam menekan angka balon udara liar.
"Kami ingin masyarakat tetap bisa merayakan tradisi Syawalan dengan penuh kegembiraan, namun tidak membahayakan diri sendiri maupun orang lain, khususnya pengguna transportasi udara,” tambahnya.
Selain kampanye keselamatan penerbangan, lanjutnya, AirNav Indonesia juga menunjukkan kepeduliannya terhadap masyarakat melalui program Tanggung Jawab Sosial dan Lingkungan (TJSL). Di Kota Pekalongan, AirNav menyalurkan bantuan digitalisasi untuk Museum Batik Pekalongan guna memperkuat literasi berbasis teknologi, meningkatkan layanan informasi, serta memperkuat sistem keamanan museum sebagai pusat edukasi budaya.
Tak hanya itu, AirNav juga menggelar program pelatihan keterampilan produktif bagi anak-anak disabilitas di Kota Pekalongan. Program ini mencakup pelatihan digital serta baking and pastry yang dirancang secara inklusif untuk meningkatkan kemampuan, kreativitas, dan kemandirian peserta.
Melalui berbagai inisiatif tersebut, menurut Wali Kota Aaf, keselamatan penerbangan, pelestarian budaya, dan pemberdayaan masyarakat merupakan satu kesatuan yang tidak terpisahkan. Dukungan terhadap balon udara ditambatkan menjadi simbol komitmen dalam menjaga ruang udara tetap aman, sekaligus memastikan tradisi tetap lestari.
Ke depan, pihaknya berharap sinergi antara masyarakat, pemerintah daerah, serta seluruh pemangku kepentingan dapat terus diperkuat. Dengan kolaborasi tersebut, diharapkan ruang udara Indonesia tetap aman dan tertib, tanpa menghilangkan nilai-nilai budaya yang telah mengakar di tengah masyarakat.
“Dengan semangat kebersamaan, tradisi bisa terus hidup, masyarakat semakin berdaya, dan langit Indonesia tetap aman untuk semua,” pungkasnya.
(Tim Liputan Kominfo/Dian)
PRINT +
DOWNLOAD PDF