Cegah Anak Tumbuh Stunting Dinkes Gelar Pemantapan Masyarakat

Pemerintah Kota Pekalongan melalui Dinas Kesehatan (Dinkes) Kota Pekalongan berupaya mencegah anak tumbuh stunting atau kerdil melalui gelaran Kegiatan Pemantapan Masyarakat Stop Generasi Stunting di Kota Pekalongan. Sosialisasi yang menyasar ke Tim Penggerak Pembinaan Kesahteraan Keluarga (TP PKK) Kelurahan se-Kota Pekalongan dan Karang Taruna di Kota Pekalongan ini digelar di Aula Dinkes Kota Pekalongan, Rabu (15/5/2019).

Stunting tak hanya perihal kecukupan gizi, penyebab lainnya bisa dari pola asuh dan pola pemberian makan dengan gizi yang tercukupi. Hal ini diungkapkan Kepala Dinkes Kota Pekalongan, Slamet Budiyanto SKM MKes. “Upaya nyata pencegahan stunting harus dimulai sejak 1.000 hari pertama kehidupan, yakni dihitung sejak bayi masih dalam kandungan. Perbaikan gizi harus sejak dalam rahim sampai dengan 1.000 hari pertama kehidupan bayi atau balita,” ungkap Budi.

Menurut Budi, tak hanya ibu yang berperan dalam tumbuh kembang anak, ayah juga harus andil. Stunting dapat berakibat fatal bagi perkembangan sumber daya manusia. Bapak juga ikut berperan jangan hanya diserahkan ke ibunya. Contoh anak usia di bawah dia tahun. Kecukupan gizi anak sampai 2 tahun 1000 hari pertama. Kalau stunting ke depannya sulit untuk diperbaiki akan menyebabkan SDM kurang baik.

“Anak di bawah dua tahun harus memiliki cakupan gizi yang bagus. Ini dimulai dari kalangan remaja yang harus memperhatikan kecukupan gizinya sehingga ketika menikah dan hamil gizinya sudah terpenuhi dari awal. Dengan demikian embrio dan kondisi bayi akan sehat, lahir secara lancar, dan mudah terserang penyakit,” papar Budi.

Yang dibutuhkan anak dua tahun ke bawah yakni protein dan lemak, bukan sekadar banyaknya karbohidrat. Unsur protein dan lemak inilah yang mendukung anak untuk tumbuh dengan maksimal. Budi berharap dengan gencarnya sosialisasi stop stunting ini seluruh elemen masyarakat ikut terlibat agar generesi ke depannya memiliki kualitas SDM yang baik.

“Angka stunting di Kota Pekalongan saat ini 8-9% berdasarkan pendataan setiap enam bulan sekali yang dilakukan pada Februari dan Agustus melalui posyandu dari jumlah anak 19.000 -20.000 anak,” jelas Budi.

Sementara itu, narasumber dari Balai Kesehatan Masyarakat (Balkesmas) Semarang, Sugi Abadi Harahap SKM MKes menjelaskan bahwa asupan gizi yang didapatkan bayi usia 0-2 tahun tidak didapatkan secara mandiri tetapi melalui konsumsi gizi orang tuanya. “Pengetahuan orang tua tentang gizi untuk anak perlu diperhatikan,” tandas Sugi.

Kegiatan ini menyasar TP PKK dan Karang Taruna melihat peran mereka yang paling dekat dengan warga atau keluarga. “tumbuhnya anak bukan hanya tanggung jawab ibu, ayah juga harus ikut berperan aktif. Kemudian kesehatan lingkungan juga mempengaruhi terhadap stunting. Mari stop stunting dengan memberikan yang terbaik untuk anak,” pungkas Sugi.