Wali Kota Aaf Resmikan Tugu Kampung Reforma Agraria, Kampung Bugisan Kini Bebas Kumuh dan Banjir

Kota Pekalongan – Upaya dan kerja keras Pemerintah Kota (Pemkot) Pekalongan dalam menata kawasan kumuh kembali menunjukkan hasil nyata. Kamis sore (04/12/2025), Wali Kota Pekalongan, HA Afzan Arslan Djunaid atau akrab disapa Aaf, secara resmi meresmikan Tugu Kampung Reforma Agraria di Kampung Bugisan, Kelurahan Panjang Wetan, Kecamatan Pekalongan Utara, Kota Pekalongan.
Peresmian ini menandai babak baru transformasi Bugisan dari kawasan rawan banjir dan kumuh menjadi lingkungan yang lebih tertata, layak huni, dan memiliki identitas baru sebagai Kampung Reforma Agraria Kota Menawan.
Dalam kesempatan tersebut, Wali Kota Aaf menyampaikan rasa syukur atas capaian besar yang diraih melalui sinergi berbagai pemangku kepentingan. Ia menegaskan bahwa, penataan Kampung Bugisan merupakan salah satu titik awal keberhasilan program pengentasan kawasan kumuh yang menjadi prioritas Pemkot dalam beberapa tahun terakhir.
“Alhamdulillah, Kampung Bugisan ini menjadi proyek awal penataan kampung bebas kumuh yang hasilnya sudah terlihat jelas. Kemarin saat Innovative Government Award (IGA) Tahun 2025, Kampung Bugisan juga menjadi lokasi unggulan yang kita presentasikan. Hampir 10 tahun kawasan ini selalu banjir, tetapi sekarang dengan penataan, pembangunan tanggul, dan rumah pompa, Bugisan sudah bebas banjir. Mudah-mudahan bisa selamanya,” ujar Wali Kota Aaf.
Menurutnya, keberhasilan ini tidak lepas dari kerja bersama lintas sektor, baik Pemerintah Pusat, Pemerintah Provinsi, berbagai organisasi, hingga perangkat daerah. Ia juga memberikan apresiasi khusus kepada Badan Pertanahan Nasional (BPN) Kota Pekalongan, yang menjadi mitra utama dalam penataan aset dan konsolidasi tanah.
Wali Kota Aaf menuturkan bahwa, proses pembenahan Kampung Bugisan tidak selalu mudah. Sejumlah warga secara sukarela menghibahkan sebagian tanah mereka demi pelebaran jalan dan pembangunan saluran air. Keputusan yang tidak ringan ini menjadi bukti nyata keterlibatan aktif masyarakat dalam perubahan kampungnya sendiri.
“Yang luar biasa, sinergi dengan BPN lancar, terutama terkait penerbitan sertifikat karena ada pengurangan luas rumah dan sebagainya. Banyak warga menghibahkan tanahnya untuk pelebaran jalan dan saluran. Ini bukti kepedulian masyarakat dan salah satu kunci keberhasilan penataan Kampung Bugisan,” jelasnya.
Dengan meningkatnya kualitas lingkungan, Wali Kota Aaf optimistis Kampung Bugisan akan menjadi rujukan dan percontohan bagi daerah lain. Ia menilai, ke depan Kampung Bugisan berpotensi menjadi destinasi pembelajaran bagi pemerintah kabupaten/kota lain terkait penanganan kawasan kumuh dan Reforma Agraria berbasis masyarakat.
Wali Kota Aaf menyampaikan bahwa Pemkot Pekalongan akan melanjutkan penataan kawasan kumuh di wilayah lain, seperti Kampung Clumprit, Kelurahan Degayu, Kecamatan Pekalongan Utara dan Pasirsari, Kelurahan Pasirkratonkramat, Kecamatan Pekalongan Barat sebagai lokasi berikutnya. Ia juga menyinggung kawasan Boyongsari, Kelurahan Panjang Baru, Kecamatan Pekalongan Utara yang sangat membutuhkan intervensi, namun masih terkendala status kepemilikan lahan milik pemerintah provinsi.
“Kita terus komunikasikan agar satu per satu masalah perkampungan kumuh di Kota Pekalongan bisa diselesaikan,” tegasnya.
Wali Kota Aaf juga mengajak seluruh masyarakat untuk menjaga infrastruktur dan fasilitas yang telah dibangun agar manfaatnya terus berkelanjutan.
“Penataan ini sudah ditangani bersama, maka mari kita jaga dan rawat. Jangan sampai Bugisan kembali banjir seperti dulu,” pesannya.
Kepala Kantor Pertanahan (BPN) Kota Pekalongan, Joko Wiyono, turut hadir dalam peresmian tersebut. Ia menjelaskan bahwa, Kampung Reforma Agraria Bugisan merupakan kelanjutan dari kegiatan Konsolidasi Tanah 2024 yang sukses menata ulang aset pertanahan warga.
“Kali ini kita resmikan Kampung Reforma Agraria Bugisan. Tugu ini adalah penandanya. Setelah asetnya ditata melalui sertifikasi konsolidasi tanah, kita lanjutkan dengan penataan akses melalui pemberdayaan masyarakat. Harapannya pendapatan dan kesejahteraan masyarakat meningkat,” kata Joko.
Sebagai bagian dari program Akses Reforma Agraria, masyarakat Kampung Bugisan telah mendapatkan pendampingan dalam berbagai bentuk kegiatan produktif, antara lain penghijauan melalui penanaman pohon buah, urban farming berupa budidaya sayuran bersama warga, budidaya lele, yang memanfaatkan kearifan lokal dan potensi lingkungan setempat. Pendekatan ini diharapkan mendorong peningkatan ekonomi secara berkelanjutan bagi keluarga-keluarga di Bugisan.
Joko juga mengungkapkan bahwa, edukasi dan pemberdayaan masyarakat turut melibatkan berbagai pihak, termasuk mahasiswa KKN UIN Gusdur Pekalongan yang menjadi katalisator percepatan program di lapangan.
"Meski berbagai capaian telah diraih, proses penataan kampung tidak akan berhenti di tahun 2025. Upaya pendampingan akan terus dilanjutkan pada tahun 2026, terutama untuk memperkuat sektor ekonomi dan UMKM warga,"tegasnya.
Lanjut Joko menambahkan, lembaga seperti LazisMu telah menyatakan kesiapan untuk mendampingi pengembangan UMKM sebagai fokus lanjutan reforma agraria.
“Ini belum berhenti. Tugu ini penanda kolaborasi tahun 2025. Di 2026 kita tata dan dampingi lagi masyarakat. Ke depan kita siapkan pemberdayaan melalui UMKM agar ekonomi warga semakin kuat,” tambah Joko.
Dengan peresmian Tugu Kampung Reforma Agraria ini, kata Joko, Kampung Bugisan kini tidak hanya bebas banjir dan kumuh, tetapi juga memiliki identitas baru sebagai kampung yang berdaya, tertata, dan menjadi contoh sukses reforma agraria perkotaan.
"Kami berharap, keberhasilan ini menjadi inspirasi bagi kawasan lain untuk bertransformasi menuju lingkungan yang lebih sehat, aman, dan sejahtera,"tukasnya.
(Tim Liputan Kominfo/Dian)
PRINT +
DOWNLOAD PDF