Peringati Hari Batik Nasional, Kota Pekalongan Perkuat Pelestarian Batik

Peringati Hari Batik Nasional, Kota Pekalongan Perkuat Pelestarian Batik
Kota Pekalongan – Pemerintah Kota (Pemkot) Pekalongan terus memperkuat komitmen dalam melestarikan dan mengembangkan batik sebagai identitas daerah sekaligus warisan budaya yang telah mengangkat nama Kota Pekalongan di tingkat nasional maupun dunia. Komitmen tersebut ditegaskan Wali Kota Pekalongan, H. A. Afzan Arslan Djunaid atau akrab disapa Aaf, usai Upacara peringatan Hari Batik Nasional (HBN) Tahun 2026 di Halaman Museum Batik Kota Pekalongan, Jumat (2/10/2026).
Menurutnya, peringatan HBN tahun ini kembali dikemas melalui berbagai kegiatan yang melibatkan masyarakat dan pelaku ekonomi kreatif. Rangkaian tersebut antara lain pembukaan pameran Kreakota di Gedung Rumah Dinas eks Bakorwil Kota Pekalongan, upacara Hari Batik Nasional, hingga karnaval batik yang menjadi bagian dari semarak peringatan HBN.
“Alhamdulillah, tahun 2026 Kota Pekalongan masih memperingati Hari Batik Nasional dan ini terus kita lakukan. Ada rangkaian acara, antara lain malam pembukaan pameran Kreakota, upacara, dan nanti malam ada karnaval. Antusias masyarakat juga sangat baik,” tutur Aaf.
Ia menegaskan, predikat Kota Pekalongan sebagai Kota Batik Dunia menjadi kebanggaan sekaligus tanggung jawab bersama untuk terus dipertahankan. Untuk itu, pelestarian batik tidak hanya berkaitan dengan aspek budaya, tetapi juga keberlanjutan lingkungan, ketersediaan bahan baku, serta keberlangsungan tenaga pembatik.
“Kita patut berbangga bahwa Kota Pekalongan sebagai Kota Batik Dunia ini harus kita pertahankan. Tetapi bukan berarti masalah sudah selesai. Masih banyak pekerjaan rumah yang harus diselesaikan, seperti masalah limbah, bahan baku yang naik, dan tenaga pembatik,” jelasnya.
Dalam upaya menjaga keberlanjutan industri batik, Pemkot Pekalongan juga terus mendorong penanganan limbah melalui pola kemitraan. Salah satunya dengan pengembangan instalasi pengolahan air limbah (IPAL) komunal yang dapat dimanfaatkan oleh sejumlah pelaku UMKM secara bersama-sama.
“Sudah kita buat program dengan kemitraan untuk limbah komunal UMKM. Jadi satu limbah bisa untuk beberapa UMKM, itu yang sudah kita jalankan. Karena kalau secara hitung-hitungan ekonomi UMKM harus membuat pengolahan limbah sesuai standar sendiri, tentu cukup berat,” katanya.
Selain persoalan lingkungan, Aaf juga menaruh perhatian terhadap keberlangsungan profesi pembatik. Menurutnya, kreativitas generasi muda yang semakin berkembang, termasuk dalam memanfaatkan platform digital, menjadi peluang untuk memperkuat pemasaran dan pengembangan batik Kota Pekalongan.
“Anak-anak muda sekarang sudah lebih kreatif, online-online mereka juga sudah berjalan semuanya. Mudah-mudahan Batik Pekalongan tetap bisa menjaga jati dirinya sebagai Batik Pekalongan, sebagai sentra batik Indonesia dan dunia,” ujarnya.
Terkait pengelolaan limbah, Pemkot Pekalongan juga terus membuka ruang kolaborasi dengan berbagai pihak, termasuk perguruan tinggi dan pemerintah daerah sekitar. Sejumlah kajian terkait penanganan limbah di sungai telah dilakukan, meski implementasinya masih memerlukan pembahasan teknis, perizinan, serta perhitungan pembiayaan. Aaf menekankan pentingnya koordinasi lintas wilayah karena persoalan lingkungan, khususnya sungai dan limbah, tidak mengenal batas administratif.
“Untuk teknis kita juga harus koordinasi dengan kabupaten, karena hulunya di sana, hilirnya di sini. Yang selalu punya masalah besar itu pasti di hilir. Melalui momentum Hari Batik Nasional 2026, kami berharap semangat pelestarian batik terus tumbuh bersama masyarakat, pelaku usaha, generasi muda, serta berbagai pemangku kepentingan. Dengan kolaborasi tersebut, batik Pekalongan diharapkan tetap lestari, berkembang secara kreatif, sekaligus mampu menjadi penggerak ekonomi daerah yang berkelanjutan,"tukasnya.
Pada kegiatan tersebut, dilakukan penandatanganan kerja sama dan pemberian hibah 6 kain batik asli Jepara dari Dekranasda Kabupaten Jepara kepada Dekranasda Kota Pekalongan.
(Tim Liputan Kominfo/Dian/Allem)
Kota Pekalongan – Pemerintah Kota (Pemkot) Pekalongan terus memperkuat komitmen dalam melestarikan dan mengembangkan batik sebagai identitas daerah sekaligus warisan budaya yang telah mengangkat nama Kota Pekalongan di tingkat nasional maupun dunia. Komitmen tersebut ditegaskan Wali Kota Pekalongan, H. A. Afzan Arslan Djunaid atau akrab disapa Aaf, usai Upacara peringatan Hari Batik Nasional (HBN) Tahun 2026 di Halaman Museum Batik Kota Pekalongan, Jumat (2/10/2026).
Menurutnya, peringatan HBN tahun ini kembali dikemas melalui berbagai kegiatan yang melibatkan masyarakat dan pelaku ekonomi kreatif. Rangkaian tersebut antara lain pembukaan pameran Kreakota di Gedung Rumah Dinas eks Bakorwil Kota Pekalongan, upacara Hari Batik Nasional, hingga karnaval batik yang menjadi bagian dari semarak peringatan HBN.
“Alhamdulillah, tahun 2026 Kota Pekalongan masih memperingati Hari Batik Nasional dan ini terus kita lakukan. Ada rangkaian acara, antara lain malam pembukaan pameran Kreakota, upacara, dan nanti malam ada karnaval. Antusias masyarakat juga sangat baik,” tutur Aaf.
Ia menegaskan, predikat Kota Pekalongan sebagai Kota Batik Dunia menjadi kebanggaan sekaligus tanggung jawab bersama untuk terus dipertahankan. Untuk itu, pelestarian batik tidak hanya berkaitan dengan aspek budaya, tetapi juga keberlanjutan lingkungan, ketersediaan bahan baku, serta keberlangsungan tenaga pembatik.
“Kita patut berbangga bahwa Kota Pekalongan sebagai Kota Batik Dunia ini harus kita pertahankan. Tetapi bukan berarti masalah sudah selesai. Masih banyak pekerjaan rumah yang harus diselesaikan, seperti masalah limbah, bahan baku yang naik, dan tenaga pembatik,” jelasnya.
Dalam upaya menjaga keberlanjutan industri batik, Pemkot Pekalongan juga terus mendorong penanganan limbah melalui pola kemitraan. Salah satunya dengan pengembangan instalasi pengolahan air limbah (IPAL) komunal yang dapat dimanfaatkan oleh sejumlah pelaku UMKM secara bersama-sama.
“Sudah kita buat program dengan kemitraan untuk limbah komunal UMKM. Jadi satu limbah bisa untuk beberapa UMKM, itu yang sudah kita jalankan. Karena kalau secara hitung-hitungan ekonomi UMKM harus membuat pengolahan limbah sesuai standar sendiri, tentu cukup berat,” katanya.
Selain persoalan lingkungan, Aaf juga menaruh perhatian terhadap keberlangsungan profesi pembatik. Menurutnya, kreativitas generasi muda yang semakin berkembang, termasuk dalam memanfaatkan platform digital, menjadi peluang untuk memperkuat pemasaran dan pengembangan batik Kota Pekalongan.
“Anak-anak muda sekarang sudah lebih kreatif, online-online mereka juga sudah berjalan semuanya. Mudah-mudahan Batik Pekalongan tetap bisa menjaga jati dirinya sebagai Batik Pekalongan, sebagai sentra batik Indonesia dan dunia,” ujarnya.
Terkait pengelolaan limbah, Pemkot Pekalongan juga terus membuka ruang kolaborasi dengan berbagai pihak, termasuk perguruan tinggi dan pemerintah daerah sekitar. Sejumlah kajian terkait penanganan limbah di sungai telah dilakukan, meski implementasinya masih memerlukan pembahasan teknis, perizinan, serta perhitungan pembiayaan. Aaf menekankan pentingnya koordinasi lintas wilayah karena persoalan lingkungan, khususnya sungai dan limbah, tidak mengenal batas administratif.
“Untuk teknis kita juga harus koordinasi dengan kabupaten, karena hulunya di sana, hilirnya di sini. Yang selalu punya masalah besar itu pasti di hilir. Melalui momentum Hari Batik Nasional 2026, kami berharap semangat pelestarian batik terus tumbuh bersama masyarakat, pelaku usaha, generasi muda, serta berbagai pemangku kepentingan. Dengan kolaborasi tersebut, batik Pekalongan diharapkan tetap lestari, berkembang secara kreatif, sekaligus mampu menjadi penggerak ekonomi daerah yang berkelanjutan,"tukasnya.
Pada kegiatan tersebut, dilakukan penandatanganan kerja sama dan pemberian hibah 6 kain batik asli Jepara dari Dekranasda Kabupaten Jepara kepada Dekranasda Kota Pekalongan.
(Tim Liputan Kominfo/Dian/Allem)
PRINT +
DOWNLOAD PDF