Bumi Suja, Warung Kopi Tumbuh Jadi Rumah Literasi dan Ruang Kreatif Kota Pekalongan

Bumi Suja, Warung Kopi Tumbuh Jadi Rumah Literasi dan Ruang Kreatif Kota Pekalongan

Kota Pekalongan - Secangkir kopi di Bumi Suja bukan sekadar sajian untuk dinikmati, tetapi menjadi bagian dari ruang perjumpaan masyarakat untuk membaca, berdiskusi, berkesenian, hingga membangun kolaborasi. Berawal dari usaha roastery kopi pada 2017, Bumi Suja kemudian berkembang menjadi warung kopi sekaligus ruang bersama yang terbuka bagi komunitas dan warga Kota Pekalongan.

Pemilik Bumi Suja, Rizky Robbani (33), menuturkan, konsep tersebut mulai dikembangkan ketika pihaknya membuka warung kopi pada 2024. Berbeda dengan konsep kedai kopi pada umumnya, Bumi Suja mempertahankan karakter bangunan yang telah ada dan menghadirkan suasana seperti rumah.

“Konsepnya kita berawal dari roastery kopi yang kemudian berubah menjadi ada kedainya. Kita menyebutnya warung kopi dengan konsep perumahan, dengan menu-menu masakan perumahan dan kopi-kopi yang kita sediakan,” tuturnya Rizky.

Ia mengungkapkan konsep tersebut tidak lahir dari keinginan untuk menciptakan bangunan dengan gaya tertentu. Justru, karakter bangunan yang dipertahankan apa adanya menjadi daya tarik tersendiri bagi pengunjung.

“Kita kebetulan dapat tempat ini sudah bangunannya seperti ini, jadi kita mempertahankan bangunan aslinya dan tidak mengubah. Orang-orang akhirnya menganggap kita menjual konsep vintage, padahal memang apa adanya. Kita hanya sedikit memperbaiki bagian yang memang harus diperbaiki,” ungkapnya.

Dari sisi sajian, Bumi Suja tetap mengandalkan kopi sebagai salah satu menu utama. Biji kopi yang digunakan diproses sendiri melalui tahapan roasting, dengan pasokan kopi yang diperoleh dari petani dan prosesor di sejumlah daerah di Jawa Tengah, Jawa Timur, Jawa Barat, serta beberapa wilayah lainnya seperti Sumatera dan Bali.

Sejumlah menu kopi yang tersedia antara lain americano, signature americano, kopi susu, dirty latte, cappuccino, dan cafe latte. Sementara bagi pengunjung yang tidak mengonsumsi kopi, tersedia teh artisan, tropical blue, green tea, milkshake, cokelat, hingga jus.

Harga yang ditawarkan berada pada kisaran Rp10.000 hingga Rp35.000, sehingga dapat menjadi salah satu pilihan tempat berkumpul masyarakat dengan beragam kebutuhan.

Namun, salah satu sisi menarik dari Bumi Suja adalah keberadaan pojok buku yang awalnya berasal dari koleksi pribadi Rizky. Buku-buku tersebut kemudian dibuka untuk dibaca pengunjung agar tidak hanya tersimpan di rumah.

“Pojok buku itu berawal dari buku koleksi pribadi. Saya rasa daripada disimpan sendiri, lebih baik bisa dibaca pengunjung yang datang ke sini. Kemudian ada teman-teman yang akhirnya ikut menyumbangkan koleksi buku yang ada di rumah dan sudah tidak dibaca,” tandasnya.

Keberadaan pojok buku tersebut kemudian berkembang seiring dengan interaksi Bumi Suja bersama berbagai komunitas. Sejumlah kegiatan seperti bedah buku, bedah film, diskusi, dan pertunjukan musik telah digelar di tempat tersebut.

Rizky menyebut, keterbukaan terhadap kegiatan komunitas merupakan bagian dari semangat yang ingin dibangun melalui Bumi Suja. Nama “Bumi Suja” sendiri memiliki makna yang berkaitan dengan rumah, sehingga tempat tersebut diharapkan dapat menjadi ruang bersama bagi masyarakat untuk beraktivitas secara positif.

“Bumi itu kita artikan rumah. Kalau orang Jawa Barat namanya Imah, orang Jawa Tengah Omah. Bumi itu Omah. Jadi tempat ini harapannya menjadi rumah untuk semua teman-teman,” imbuhnya.

Tidak hanya untuk komunitas, ruang yang tersedia di Bumi Suja juga terbuka untuk dimanfaatkan masyarakat sekitar. Rizky berharap keberadaan tempat tersebut dapat memberikan manfaat lebih luas, terutama di tengah keterbatasan ruang publik yang dapat digunakan untuk berkegiatan di kawasan perkotaan.

“Siapapun yang mau berkegiatan di sini, berproses di sini, kita dengan senang hati dan sangat terbuka untuk bisa berkolaborasi. Warga juga bisa menggunakan tempat ini untuk kegiatan. Dengan keterbatasan tempat di tengah kota, Alhamdulillah tempat ini bisa dipakai teman-teman komunitas maupun warga,” pungkasnya.

Bumi Suja berlokasi di Jalan Merdeka, Keraton Kidul, Gang 8 Nomor 7, Kota Pekalongan. Tempat ini buka setiap hari mulai pukul 07.30 hingga 00.00 WIB. Lokasinya berada di sekitar Monumen, tepatnya di belakang Bank BNI, melalui gang di sebelah barat monumen sekitar 100 meter.

Kehadiran Bumi Suja menunjukkan bahwa geliat usaha kreatif di Kota Pekalongan dapat tumbuh tidak hanya melalui produk yang ditawarkan, tetapi juga dengan menghadirkan ruang interaksi yang mempertemukan masyarakat, komunitas, literasi, dan berbagai aktivitas kreatif dalam satu tempat.

(Tim Liputan Dinkominfo/Dea)